HIV-AIDS dan Perilaku Seks Suku Pedalaman di Papua (3)

Seperti halnya  suku bangsa Papua lainnya, suku bangsa Marind-Anim  juga mempunyai konsep seksualitas berdasarkan pemahaman kebudayaan mereka. Secara struktural-fungsional, konsep seksualitas dalam kebudayaannya, memainkan peranan penting dalam menata aktivitas hidup  mereka. Hal ini berarti perilaku seksual mempunyai makna  yang penting dalam  kehidupan  warganya sesuai  kebudayaan mereka.

Warga Suku Marind Anim sekitar tahun 1921-1932 (foto KITLV - Belanda)
Perilaku  Seksual dalam Mite Ndiwa
Suku bangsa Marind-Anim  menggambarkan filsafat hidup yang lebih tinggi, dimana mereka menata dunia ini dan diungkapkan dalam mitologi, upacara, dan praktek magi. Penataan ini terdapat dalam pembagian mahluk-mahluk menjadi satu susunan yang rapih, dinamis dalam tatanan hidup (dema – totem – klen). Karena itu bagi mereka akan terjadi keseimbangan antar kosmos bisa terjaga dan membawa kesuburan antara lingkungan mistik dan masyarakat. Dalam budaya  Mayo,  Imo, Sosom,  ada upacara-upacara yang dilakukan secara religius, yang dimaksudkan untuk menhadirkan  roh ilahi yang ada dalam diri Ndiwa. Makna dari upacara ini salah satunya untuk mendidik kaum pria remaja guna mendapat kekuatan ilahi dalam menjaga tatanan hidup yang seimbang antara manusia dan lingkungan. Lambang fisik dari Ndiwa adalah kelapa muda (onggat) sedangkan roh yang berbicara adalah  bunyi meraung yang dihasilkan oleh Tangg ( benda keramat yang terbuat dari belahan nipah). Dalam kepercayaan ini, Ndiwa dibunuh lalu dagingnya yang sudah dicampur dengan sperma hasil sanggama terputus  laki-laki dengan perempuan , lalu dibagikan kepada semua peserta untuk diminum supaya mendapat kekuatan ilahi. Inti dari upacara ini adalah:
  • (a) inisiasi bagi para remaja supaya menjadi anggota masyarakat secara penuh; 
  • (b) membawa kesuburan dan dan keseimbangan hidup manusia; 
  • (c) mengadakan hubungan dengan  para leluhur.


Perilaku  Seksual dalam Upacara Bambu Pemali (Barawa)
 Bambu Pemali adalah suatu proses belajar seks menurut aliran Mayo.  Menurut aliran Mayo, manusia pertama adalah “Geb” yang diberikan tanggung jawab untuk melestarikan alam  dengan makan buah Kawalik yang mengembara sampai ke kali Goroka dan mengganti kulit (Ibahu) . Sewaktu mengembara ada tanah (Tanawu Geize) yaitu “setan purba”. Sewaktu tidur ada dewa dari atas yang melindungi kamu, maka diperintahkan oleh Tanawi Geize untuk menghilangkan dewa dari atas dengan cara  mengosok tiang-tiang rumah dengan sperma agar tidak suci lagi.  Pada saat itulah diajarkan untuk laki-laki dan perempuan berhubungan seks supaya bisa keluar spermanya melalui hubungan antara “perai” = vagina dengan “ezom” = penis. Melalui perai inilah yang akan melahirkan manusia.  Pada saat itulah mereka mulai melakukan hubungan seks secara bebas.

Perilaku  Seksual dalam Upacara Ezam Uzum
 Adat  suku bangsa Marind-Anim dalam upacara Ezam Uzum dalam aliran Mayo, maka setiap hiasan ada hubungan dengan seks. Setiap melakukan upacara, maka kepala adat atau pemimpin upacara selalu akan melakukan hubungan seksual dengan ibu-ibu janda sebanyak tiga sampai lima  orang ibu. Tujuan dari hubungan seksual tersebut guna mendapatkan sperma, yang akan dipakai dalam kepentingan upacara tersebut, karena sperma tersebut  melambangkan kesucian guna mengusir setan. Biasanya dikaitkan pula dengan upacara “Yawal”  atau “beralih tidak mati”

Perilaku  Seksual dalam Upacara Subawakum
 Dalam upacara subawakum biasanya semua perempuan memasukkan “bambu gila”  atau “welu” di celah pangkal paha dan dipegang ramai-ramai  sepanjang malam . Biasanya  pasangan perempuan dari dua paroh yang berbeda yang memegang yaitu dari Gebze dan Sami. Kalau klen Sami memegang bambu gila pada malam hari, maka menjelang hampir siang akan dibantu oleh klen Gebze, maka terjadilah proses tolong menolong yang disebut “Subawakum”. Akhir dari proses tolong menolong inilah maka terjadilah hubungan seksual dengan penukaran pasangan.

Perilaku  Seksual dalam Upacara Kambara
 Menurut aliran Mayo, ada Allah atau “Alawi” yang mengatur keseimbangan. Ada seseorang yang diutus Alawi untuk mengatur alam semesta yaitu seseorang yang disebut “Tik-Anem”. Tik-Anem menyebarkan epidemi kepada manusia dan binatang yang sudah tidak seimbang lagi dengan alam semesta, dan akan membunuh  manusia yang sudah berlebihan  dalam satu desa dengan menggunakan kekuatan hipnotis. Biasanya sebelum dibunuh ada  peradilan yang diputuskan oleh  orang tua (Zambanem) pada upacara Kambara. Kekuatan yang dipakai untuk membunuh orang-orang tersebut dengan menggunakan sperma. Untuk mendapatkan sperma tersebut, maka  orang tua yang  perkasa dan kuat akan mengadakan hububngan seksual dengan wanita dari kampung itu. Jadi seorang wanita bisa bersetubuh dengan lima orang laki-laki perkasa untuk mengumpulkan spermanya. Menurut  suku bangsa Marind-Anim sperma dipakai untuk membunuh karena mempunyai kekuatan, bisa membunuh dan menyembuhkan orang.  

Perilaku  Seksual dalam Adat Perkawinan
Orang Marind, biasanya sebelum menikah, laki dan perempuan tinggal terpisah  pada rumah laki dan rumah perempuan. Setelah dewasa, mereka mulai mengenal, dalam suatu pesta yang berhubungan dengan upacara seksual (berhubungan seks). Hal ini selalu dikaitkan dengan konsep religius, karena  untuk meningkatkan  kesuburan adalah sangat penting. Dalam segala hal yang berhubungan dengan  kesuburan, kehidupan dalam perkawinan, membuka kebun, awal dari  kegiatan   pengayauan,  maka   sebuah   pesta   yang   berkaitan dengan hubungan seksual selalu dilakukan. Upacara heteroseksual yang disebut “aili” atau “arih” dimana sejumlah besar laki-laki dan perempuan terlibat dalam suatu  hubungan  seks heteroseksual bebas. Dalam upacara khusus  hubungan seks (otiv bombari) dilakukan secara religius  dalam peristiwa perkawinan.  Biasanya  calon penganten perempuan harus berhubungan seks terlebih dahulu dengan  sepuluh  laki-laki dari  kerabat suaminya sebelum diserahkan kepada suaminya.  Hal  ini  dikaitkan dengan konsep  kesuburan, yaitu harus diberikan “cairan sperma” agar wanita tersebut  subur dan bertambah kuat (Overweel, 1993:15) Pada orang Marind, persetubuhan secara heteroseksual sebelum menikah  banyak terdapat  pada  upacara,  beberapa pesta adat besar untuk maksud meningkatkan  kesuburan dan menambah kecantikan bagi wanita (van Baal 1966: 808-818). Beberapa dari  upacara seksual ini  dilakukan oleh lekaki yang sudah menikah  dan ibu-ibu, bahkan dapat berhubungan seksual dengan  laki-laki yang memperoleh keberhasilan  dengan satu atau dua orang perempuan muda. Laporan dari A  South  Pacific Commission (1952-1953, 1955) menyatakan bahwa  frekuensi yang terbesar dari upacara heteroseksualitas  mengakibatkan   adanya suatu tingkatan  yang tinggi  dalam   sterilisasi, terutama pada  wanita Marind  di jaman sebelum kolonial (lihat Vogel dan Richens 1989).

Di samping itu hubungan seks secara heteroseksual, bagi wanita Marind mempunyai makna tersendiri pula dalam hal, dimana  cairan sperma yang tinggal dalam tumbuhnya itu akan membantu pertumbuhan badannya. Bila dihubungkan kegiatan homoseksual dan heteroseksual yang ada pada orang Melanesia, khususnya pada orang Papua  di belahan selatan New Guinea (Papua), nampaknya kegiatan ini lebih banyak berhubungan dengan  konteks  kebudayaan mereka. Dampak dari hubungan seks  secara homoseksual dan heteroseksual  ini,  timbullah  berbagai masalah yang berhubungan dengan penyakit  kelamin  baik  itu Penyakit Menular Seksual, HIV/AIDS.

Timbulnya Penyakit Seksual hingga HIV-AIDS 
Pada tahun 1913, di daerah  suku bangsa Marind-Anim,  timbul suatu jenis penyakit yang ganas dan mulai melanda penduduk di kampung-kampung sepanjang pantai dan sungai-sungai di pedalaman . Penyakit ini timbul akibat pergaulan intim yang bebas  antara  laki-laki dan perempuan ditambah lagi dengan pergaulan ritual mengakibatkan bencana besar yang mengancam dan memusnahkan suku bangsa Marind-Anim. Pada saat itu  pastor Johanes van de Kooy MSC sibuk merawat pasien dalam rumah sakit. Pada tahun 1921 datanglah seorang dokter ahli kelamin,  dokter Cnopius dan dapat menolong musibah besar yang menimpa suku bangsa Marind-Anim  sehingga  menurunkan secara drastis jumlah orang  yang sakit. Ternyata penyakit yang diderita suku bangsa Marind-Anim, adalah sejenis penyakit kelamin yang disebut granolome ( Duivenvoorde  1999:19-25).
Hal yang sama sekarang ini terjadi di belahan  selatan Papua, khususnya di kalangan suku   bangsa   Marind-Anim,   dimana    telah   dilanda   suatu   musibah   besar  dengan munculnya jenis penyakit kelamin yang lebih dahsyat lagi bila dibandingkan dengan   granolome pada   tahun   1913.  Penyakit  kelamin  tersebut  adalah   jenis HIV/AIDS. Human Immunodeficiency Virus/ Acquired Immuno Deficiency Syndrome. Dunia pada umumnya, khususnya Afrika, Amerika dan Eropa  pada dasawarsa 1980-an diguncang oleh suatu jenis virus yang dikenal dengan nama virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome) . Virus ini melemahkan daya pertahanan tubuh manusia, sehingga mudah terserang berbagai macam penyakit.

Penyakit ini sangat mengganas, karena sejak ditemukan di Afrika, Eropa, dan Amerika, telah diupayakan mencari obat  penangkalnya, tetapi belum ditemukan. Virus ini dapat ditularkan  oleh penderita kepada orang lain melalui hubungan seksual (homoseksual maupun heteroseksual), transfusi darah, injeksi/suntikan, dan juga melalui alat-alat  seperti: alat tato, pisau cukur: bila digunakan oleh penderita dan tidak disterilkan.
Meningkatnya kasus HIV/AIDS dan meluasnya daerah  yang melaporkan kasus HIV/AIDS di Indonesia menjadi tantangan bagi program pencegahan HIV/AIDS. Berdasarkan prevalensi HIV/AIDS dapat dikatakan di Indonesia masih dikategorikan  dalam “low level epidemic”. Namun pada sub populasi tertentu (PS dan IDU) di  beberapa  propinsi (Papua, DKI Jakarta)  prevalensi HIV/AIDS secara konsisten  masuk dalam concentrated level >5%. Jumlah kumulatif  kasus AIDS yang dilaporkan hingga Juli 2001   di  Indonesia   630  orang,   sehingga  dapat meningkat  kasus   AIDS   1 per 100.000 penduduk. Papua prevalensinya   dilaporkan 38 kali angka Nasional, diikuti Jakarta (9 kali) dan Bali (2 kali). Peningkatan tajam ini terjadi sejak tahun 1998.

Sejak ditemukannya kasus AIDS pertama kali di Indonesia pada tahun 1987, proporsi kasus AIDS pada perempuan dibandingkan pria terus meningkat dari  1 per 10  menjadi 1 per 4. Faktor dominan yang mempengaruhi perubahan juga mengalami perubahan dari pola hubungan homoseksual/biseksual menjadi heteroseksual. Di samping itu pula dikejutkan oleh hal lainnya adalah pesatnya peningkatan proporsi kasus AIDS pada pengguna NAPZA dengan jarum suntik (IDU/Injecting Drug Users) dari 0-1% pada tahun 1997-1998 meningkat tajam menjadi 13% hingga Juli 2000. Sedangkan TBC adalah infeksi oportunistik terpenting karena menyerang 50% penderita AIDS.

Kelompok-kelompok berperilaku resiko tinggi seperti Pekerja Seks Wanita yang di Merauke, Sorong, Karimun lebih dari 5%; sedangkan 1-5% untuk Riau, Yogyakarta, Sumatera Selatan, dan Jawa Timur; dan dibawah 1% untuk propinsi lainnya. Angka lebih dari 5%  secara konsisten pada sub populasi tertentu mengidentifikasikan wilayah tersebut dapat dikategorikan pada concentrated level epidemic.(Aksi Stop AIDS, Program  Pencegahan Infeksi Menular Seksual dan HIV/AIDS., Kerjasama Pemerintah Republik Indonesia dan Amerika Serikat. Oktober 2001. GOI-USAID/FHI Ditjen PPM & PL. Jakarta).
Situasi AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome) adalah keadaan seseorang yang mempunyai bermacam-macam gejala penyakit yang disebabkan turunnya   kemampuan    sistem   kekebalan   dalam   tubuh.   Sistem    kekebalan   tubuh   manusia ditentukan oleh sel-sel darah putih, khususnya limphocit T atau CD-4. HIV (Human Immunodeficiency Virus) menyerang limphosit T, yang dalam keadaan normal tubuh manusia terdapat 500-1500 limphosit T/mikroliter. Jika limphosit T ini turun menjadi <200/mikroliter, maka pada orang tersebut akan timbul gejala-gejala AIDS.(Gunawan, 2000: 25-26).

Mengingat masa inkubasi penyakit ini, maka dipastikan penduduk di wilayah Papua telah tertular virus HIV/AIDS pada tahun 1992 yang berarti 11 tahun kemudian sejak penyakit ini ditemukan pertama kali  tahun 1981 di Amerika Serikat. Pada bulan Desember 1992 diambil 112 sampel darah di Merauke dan 6 sampel darah memberikan hasil pemeriksaan yang positif dengan metode aglutinasi. Kemudian 6 sampel darah tersebut dikirim ke Jakarta untuk dikonfirmasi dengan metode Western Blot. Hasil umpan balik dari Jakarta pada bulan Januari 1993 menyatakan ke-enam sampel tersebut semuanya positif. Dengan demikian sejak saat itu secara resmi Papua, khususnya kota Merauke dinyatakan terlanda wabah AIDS. Pengidap HIV ini terdiri dari 2 orang WPSK (Wanita Pekerja Seks Komersial) Indonesia  dan 4 orang nelayan berasal dari Thailand, (Gunawan,2000: 27-28). Data Kanwil Kesehatan Propinsi Papua  bulan April 2000, tercatat 315 orang dan pertengahan bulan Mei 2000 bertambah menjadi 389 Odha (Orang  Dengan  HIV  atau  AIDS),  dan  pada  akhir   September   2000,  terdapat  394 Odha, maka pada akhir tahun 2001 sudah mencapai 629  Odha (ASA-Lemlit Uncen, 2001: 2). Bila dihubungkan dengan teorifenomena “gunung es”, maka memasuki   tahun  2002   jumlah  Odha  diperkirakan  bisa  mencapai 70.000 orang sampai 140.000 Odha yang hidup ditengah-tengah masyarakat Papua (La Pona, 2000: 3-4).

Dengan munculnya masalah penyakit HIV/AIDS di Papua sejak tahun 1992, maka daerah Kabupaten Merauke sudah menjadi daerah epidemi AIDS, karena dari 201 kasus HIV/AIDS yang terdeteksi hingga akhir tahun 1998, ternyata 73,63% atau  148 kasus HIV/AIDS ditemukan di Merauke. (Yasanto,1999). Berdasarkan data terakhir hasil RAAP (Rapid Anthropology Assessment Procedure)  Juli 2001 di Merauke terdapat  310 penderita HIV/AIDS. Berdasarkan hasil seminar HIV/AIDS yang diselenggarakan oleh Muhammadiyah Papua kerjasama ASA Papua, telah tercatat bahwa  sampai  bulan Juni 2002  ini sudah mencapai angka sangat mengkhawatirkan. Menurut  Chief Representative Aksi Stop AIDS (ASA) Papua, dr Gunawan Ingkokusumo, maka kasus HIV/AIDS  berdasarkan data terakhir  di Papua pada bulan Mei, berjumlah 840 kasus dan pada bulan Juni 2002 sudah menembus angka 993 kasus. Kasus HIV/AIDS  yang ditemukan di Papua masih dominan disebabkan oleh hubungan seks (Gunawan 2002). Dari kasus tersebut di atas ternyata Merauke menempati urutan teratas, dimana pada Juli 2002 kasus HIV/AIDS telah menembus angka tertinggi yaitu  457 kasus yang    semuanya     masih   dominan  disebabkan oleh hubungan seks
( Rinta 2002). Menurut hasil Serosuvei, Desember 2002 untuk Merauke  Januari 2003  menunjukkan angka terakhir pengidap HIV 220 orang dan AIDS  sebanyak 307 orang  dengan total kasus 527 orang. Sedangkan angka keseluruhan untuk Papua  pengidap HIV sebesar 724 orang dan AIDS sebesar 539 orang dengan total keseluruhannya 1263 orang (Gunawan, Maret 2003).


Kesimpulan Dumatubun
Suku Bangsa Marind-Anim, sebagaimana suku bangsa lainnya di Papua secara cultural memiliki seperangkat pengetahuan yang mewujudkan perilaku seksual mereka. Secara nyata  aktivitas  seksual yang terwujud dalam perilaku itu terstuktur serta berfungsi secara baik dalam mendukung akvitas mereka berdasarkan  interpretasi kebudayaannya. Konteks ini  secara konkrit muncul dalam berbagai aktivitas hidup yang tertata baik dalam kebudayaan, baik  dalam aktivitas inisiasi, perkawinan, mite, keseimbangan  lingkunggan, pengobatan, kekuatan magi, kepemimpinan, pengayauan, serta upacara-upacara adat lainnya. Secara struktural-fungsional konteks tersebut lahir berdasarkan konteks kebudayaan yang mempunyai makna dan arti yang  dapat menata secara baik kehidupan warganya.
Dasar utama dari berbagai aktivitas seksual baik secara homoseksual maupun heteroseksual di kalangan suku bangsa Marind-Anim itu berlandaskan pada konsep “kebudayaan semen “  atau “kebudayaan sperma”. Sperma bagi  suku bangsa Marind-Anim merupakan suatu kekuatan yang diperoleh dari seorang pria yang perkasa, kuat. Sperma  secara konseptual mempunyai makna yang kuat, sebagai konsep kesuburan, kecantikan, kekuatan menyembuhkan dan kekuatan mematikan. Sehingga  di dalam aktivitas hidup suku bangsa Marind-Anim konsep sperma ini memainkan peranan penting  dan terstruktur serta berfungsi secara baik dalam kehidupan kebudayaan. Perwujudan konkrit dari konsep sperma tersebut, terrealisasi dalam berbagai bentuk aktivitas  adat  dalam berbagai bentuk upacara-upacara secara religius.
Konsekuensi dari pengetahuan dan perilaku seksual  suku bangsa Marind-Anim berdasarkan konteks kebudayaan mereka, apakah akan berdampak pada tumbuhnya berbagai penyakit menular di kalangan  mereka? Tentu saja pertanyaan ini belum bisa terjawab, karena perlu dipertimbangkan pula bahwa kebudayaan tidak statis, karena bersifat dinamis. Hal ini berarti konsep tersebut dapat mengalami perubahan, tetapi konsep dasar secara hakiki masih dipegang teguh sebagai dasar kontrol kebudayaan mereka. Suku bangsa Marind-Anim tentu telah mengalami perubahan dalam berbagai aspek kehidupan kebudayaannya.  Untuk itu perlu dikaji lebih mendalam lagi tentang aspek cultural  yang berhubungan dengan perilaku seksual, apakah berubah dalam konteks yang lain dan disesuaikan dengan kehidupan dewasa ini, apakah berdampak terhadap penyakit menular seksual dan HIV/AIDS yang tinggi di kota Merauke. [HABIS]

HIV-AIDS dan Perilaku Seks Suku Pedalaman di Papua (1)  
HIV-AIDS dan Perilaku Seks Suku Pedalaman di Papua (2)
HIV-AIDS dan Perilaku Seks Suku Pedalaman di Papua (3)